Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sekilas Tentang Ku


            Ini tentang aku dan kisahku... Namaku Fitri Nuriyanti, lahir di desa Genting, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang pada tanggal 13 Januari 1999.  Teman-teman memanggilku Fitri kadang juga Nuri. Hanya terlahir dari sebuah keluarga sederhana di desa yang masih jauh dari hiruk pikuknya kota. Aku anak bungsu dari dua bersaudara. Kini aku menempuh pendidikan di perguruan tinggi islam di Kota Salatiga dengan jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. Duduk dibangku kuliah yang katanya bangkunya orang dewasa. Tidak melulu tentang orang dewasa, nyatanya kita masih sama-sama mencari ilmu dan masih membutuhkan arahan dari guru yang sekarang panggilannya berubah menjadi dosen.
            Semasa kecil kira-kira usia TK aku sudah ditinggal ibuku. Kini aku tinggal bersama ayah, kakak, nenek dan juga kakek. Anak bungsu perempuan yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu, kadang aku juga iri dengan teman-teman yang tumbuh dengan pelukan hangat ibu. Segala keluh kesah, susah senang semua mereka curahkan kepada ibunya. Diam-diam kalbu ini terkadang menangis, walaupun air mata tak sanggup untuk menetes. Aku hanyalah seorang manusia biasa yang merindukan kasih sayang seorang ibu. Rindu pun hanya ku adukan melalui doa, supaya engkau tenang disisiNya.
Ayahku pun tak jauh perhatiannya seperti seorang ibu, meskipun kata-kata sayang tidak pernah terlontarkan dari mulutnya, akan tetapi perbuatan mewakilinya. Ayah yang menggandakan diri juga sebagai ibu membuatku merasa bangga akan perjuangannya. Apa yang anaknya inginkan, apa yang anaknya butuhkan beliau berusaha untuk mencukupinya. Dia sangat protektif dengan anak perempuannya ini. Selalu dia tanya secara detail apa yang anaknya lakukan, dengan siapa, mau kemana akan pergi, jam berapa pulang, jangan terlalu sore pulangnya. Saat aku rapuh, saat aku sulit memilih, pundak ayahlah yang aku raih.
Aku patut bangga dengan perjuangan ayahku, meskipun dia single parents dia berhasil menyekolahkan kedua anaknya hingga perguruan tinggi. Pekerjaan serabutan hanya seorang kuli bangunan dan petani sampai sekarang bisa mengupayakan kebahagiaan untuk anak-anaknya. Kini beliau menekuni usaha pertanian, dan tak perlu lagi panas-panasan di bawah terik matahari untuk mengaduk pasir. Beliau bukan sarjana pertanian, akan tetapi usaha yang ia tekuni alhamdulillah lancar dan membuahkan hasil. Kerja keras yang tak kenal putus asa mengajarkan aku pentingnya bersyukur akan menghargai hidup. Untuk menggambarkan seberapa besar pengorbanan ayah, mungkin akan menghabiskan waktu yang lama. Untuk mengingat akan kerja keras usaha yang dilaluinya, tetes air mata ikut jatuh di atas kertas. Oh ayah meskipun saat ini aku belum bisa membahagiakanmu, aku selalu berdoa supaya kau selalu dalam lindunganNya, dan selalu diberikan lindungan olehNya.
Alih-alih terpuruk karena rindu dengan sosok ibu, dan logika tak mampu sejalan dengan perasaan. Saat otak memaksa untuk merelakan, tapi hati masih saja terjerat dengan keinginan. Terasa payah apabila hanya berdiam diri menunggu ketidakpastian. Tentunya aku harus bergerak untuk maju. Karena hidup adalah sebuah roda tanpa sebuah pengalaman kita tidak akan hidup lebih baik dikehidupan selanjutnya. Dan ingat semua orang pasti akan kembali dengan pemilikNya. Aku masih jauh dari namanya anak berbakti, untuk pergi ke makam ibu pun ku tak sempat. Masih disibukkan dengan alasan ini itu untuk sekali dalam seminggu menengoknya saja. Walaupun begitu aku rutin memanjatkan namanya dalam setiap doaku.
Aku bersekolah di SD dekat rumah, 10 menit jarak rumah menuju ke sekolah. Hanya perlu berjalan kaki untuk menempuhnya. Alhamdulillah prestasi kelas selalu aku dapatkan. Ditinggal pergi oleh seseorang yang penting dihidupku, aku bisa membuktikkan bahwa aku bisa membuat bangga dan membuat ibu tersenyum di surgaNya. SD adalah masa aku masih suka bermain dan bahkan aku lagi nakal-nakalnya dengan orang tua. Sedikit saja yang tidak keturutan akan menangis. Bahkan di usia itu aku sering beradu argumen dengan nenekku.
Usia SMP adalah usia di mana  pencarian jati diri tumbuh. Usia labil yang masih membara. Usia pertama kali kenal dengan kata cinta. Sekolahku ini masih satu tempat dengan tempat yang aku tinggali. Sekolah yang jauh dari keramaian, fasilitas seadanya, guru dan murid nya tak sebanyak di sekolah yang maju. Seangkatan hanya ada tiga kelas. Itu pun sangat mudah untuk mengenalinya. Bisa dikatakan hampir semua siswa saling mengenal. Tak hanya tatap muka ketika bertemu, tetapi juga bertegur sapa. Kantin yang hanya warung kecil dipojokkan bawah dekat dengan alas, yang bisa dikatakan masih kurang memenuhi standar kebersihan. Perpustakaan yang jarang sekali di jamah oleh siswa, bukunya pun tidak berkembang sesuai jaman. Masih dikatakan sekolah yang biasa saja, anak yang sekolah di situ pun bisa dibilang buangan dari sekolah yang maju atau orang yang kepepet karena jarak yang tidak terlalu jauh dengan rumah.
Dulu ingin sekolah di luar daerah, akan tetapi tidak mendapat ijin dari ayah. Fasilitas transportasi yang tidak memadahi, sedangkan untuk mengantar jemput lebih diberatkan untuk mengais rejeki. Akan tetapi di manapun kita menuntut ilmu, siapapun yang membei kita harus tetap mensyukurinya. Ilmu tetap ilmu tanpa sekolah kita tidak akan tau apa-apa. Kita tidak perlu memandang latar belakang guru kita, bagaimanapun mereka tetap seorang guru yang rela serta tulus membagikan ilmunya kepada kita. Aku disini temukan pula banyak teman-teman yang sudah seprti keluarga. Kita saling mendukung satu sama lain. Walaupun begitu ketika perpisahan kelulusan pun kita saling bersipu malu akan tangisan di pipi kita. Karena perpisahan adalah hal yang menyakitkan.
Kini aku telah menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Yang jarak tempuhnya lumayan memakan waktu. Meskipun begitu, kalau ada mata kuliah pagi aku harus berangkat pagi sekali. Jarak tempuh 15 menit dari jalan raya dan harus melewati perladangan warga atau orang desa mengatakannya bulak-bulak. Suasana yang sepi dan gelap sering kali aku harus menunggu orang lewat yang searah denganku terlebih dahulu, dan kemudian mengikutinya dari belakang. Ketika sedang sendirian untuk menunggu orang lewat yang terlalu lama, sambil menyetir dengan kecepatan yang lumayan akupun sambil melantunkan doa-doa dengan suara keras. Sembarang doa apa saja keluar dari mulutku, semata untuk mengurangi rasa takut itu.
Sebenarnya aku pernah kos saat semester awal. Itu pun hanya berlangsung satu semester saja. Kenapa sekarang memutuskan untuk berhenti dan malah memilih untuk laju? Ya disamping lebih menghemat kantog, aku juga masih sulit jauh dari keluarga. Meskipun resikonya akan lebih capek dan waktu habis di jalan. Untuk memanfaatkan waktu kosong hanya ku habiskan untuk membuat tugas dan istirahat. Untuk memilih aktif dalam sebuah organisasi aku masih malas. Kegiatan itu-itu saja di kos terasa sangat membosankan. Walaupun begitu ketika laju ketika terasa lelah akan tetapi rasa itu hilang begitu saja ketika sudah bertemu dengan keluarga. Apalagi mendengar ocehan ponakanku bermain bersama mereka bisa menghibur keletihanku. Sisa waktu juga ku habiskan untuk memberi tambahan pelajaran untuk anak SD. Sebelum sampai rumah kadang mereka sudah menungguku. Kadang merasa "aku perlu istirahat" tapi apa daya mereka hanya anak-anak. Tidak tau keluhan orang dewasa yang dirasakan. Setelah memulai pelajaran, rasa letih itu akan segera berlalu begitu saja. Perasaan senang dan juga semangat kembali membara setelah mengetahui bahwa mereka memahami pelajaran yang mereka pelajari. Kadang tingkah laku mereka pun sangat menghibur. Apa lagi saat menjawab soa-soal yang susah mereka akan kebingungan menjawabnya, dan jawaban yang mereka keluarkan pun tidak nyambung dengan konteks yang dibahas.
Awalnya berada di sini merupakan pilihan terakhir setelah ditolak dari universitas yang sudah menjadi harapan. Harapan yang tinggi tak seperti ekspetesi yang terjadi. Kepahitan karena ditolak membuat hati ini terlalu berat untuk menerimanya. Tetapi dari perjalanan waktu ke waktu, hari ke hari yang mulai terlewati hikmah berada di sini mulai aku rasakan, mulai aku pahami, dan mulai aku syukuri. Memang benar walaupun sudah banyak aktivitas yang sudah dilakukan pun kenangan pahit itu sesekali pasti akan muncul. Apalagi ketika berkumpul dengan teman lama. Ketika berceloteh tentang hari-hari yang dijalani, saat sibuk membuat tugas sampai pagi, tidak tidur karena deadline laprak dan masih banyak lagi..
Seketika aku hampir lupa menuliskan kisahku di sekolah menengah atas. Akhirnya aku bisa sekolah di SMA favorit di daerahku. Sistem sekolah yang sangat berbeda dengan sekolahku di SMP dulu, membuatku kaget diawal. Alhamdulillah aku masuk di kelas yang orang-orangnya super baik, semuanya sangat sungguh-sungguh dalam belajar. Daya saing sangat terasa di kelas ini, kita semua beradu prestasi. Walaupun aku tergolong siswa yang daya pikirnya pas-pasan akan tetapi berada di kelas ini membuatku tertantang untuk bersungguh-sungguh. Selain dituntut untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, jiwa pun akan terlatih malu apabila tetinggal jauh. Persaingan semakin terasa ketika kami berada di kelas 2 SMA. Disamping mengunggulkan hasil yang harus maksimal, di sini aku banyak belajar akan berbagai hal. Belajar tak melulu tentang teori dan hitungan, melainkan rasa kekeluargaan dan kebersamaan. Semua masalah kelas kita pikul bersama. Ada yang salah, kita tanggung bersama. Aku merasa beruntung diantara orang-orang yang punya cita-cita dan toleransi tinggi. Pernah untuk membuat pameran kita mempersiapkannya hingga larut malam. Di situ kita saling bahu membahu untuk menyelesaikannya, pesan makan seadanya untuk mengganjal perut. Hingga belum selesai kita sudah diusir karena melebihi batas waktu di sekolah. Ada juga ketika kita tidak bisa suatu mata pelajaran kita saling tolong menolong. Tidak memandang siapa yang memiliki ilmu lebih tinggi mereka akan mengajari yang kurang bisa. Memang benar apa yang dikatakan orang masa yang paling indah adalah ketika di sekolah, dan yang aku rasakan adalah ketika di SMA. Tiga tahun satu kelas bersama mempererat rasa kekeluargaan kami. Seluk beluk dari setiap individu kami sudah saling tahu. Semakinku merindukan mereka... Semakin ku merindukan bercengkerama dengan kalian oh kawanku.. Ketika bermain, belajar kelompok mereka tidak pernah melupakan ibadah kepadaMu. Tidak hanya belajar secara duniawi saja, secara akhiratpun kita saling mengingatkan akan pentingnya mengutamakan ibadah.  Aku merindukan mereka, merindukan semua kisah yang pernah terlewati bersama kalian semua.
Memang benar sekarang kita sudah berbeda pijakan, bahkan kita dalam jarak terjauh. Jarak yang mungkin sulit untuk mempertemukan kita lagi. Berjumpa sekali dalam setahun pun kadang tak sempat. Beberapa orang bisa menyempatkan diri, tetapi tak sedikit pula yang tidak bisa meluangkan waktunya. Tahap kita memang sudah berbeda, akan tetapi sekali saja untuk melepas kerinduan kalian tak mampu sempatkan? Rindu semakin bergejolak ketika sudah berpisah. Berbeda tempat dalam mencari ilmu, bahkan sebagian dari kalian sudah ada yang mengais rejeki. Tak mampukah kita saling melepas rindu??
Semakin terasa perbedaan pertemanan ketika duduk dibangku kuliah. Tak seperti dulu lagi. Untuk menemukan jiwa semangat tinggi seperti kalian tak semudah yang dikira. Di sini, di bangku kuliah semua sudah serba mandiri. Semua hal dilakukan sendiri. Kerap kali tugas kelompok yang harus dilakukan secara bersama, apalah daya mereka tak sadar dan hanya mengacuhkan akan tanggungjawabnya. Banyak dari mereka yang menggantungkan orang lain. Semakin tinggi jenjang yang kita pijaki semakin tinggi pula beban dan tanggung jawab yang harus kita pikul. Kalau tidak dari diri sendiri yang memulai, kalau tidak dari diri sendiri yang bekerja keras, siapa lagi? Dulu penuh dengan bimbingan dan diperhatikan sekarang penuh kemandirian dan tuntutan. Kalau hanya menggantungkam orang lain tanpa kerja keras dan usaha kita pasti akan tertinggal. Mulailah intropeksi dari diri sendiri, dan berpandangan secara kritis dan luas.

Posting Komentar untuk "Sekilas Tentang Ku"