Perjalanan yang Tak Disangka
Upacara peringatan
hari Kemerdekaan kurayakan bersama teman
karang taruna di desaku . Upacara
yang setiap tahunnya ada meski hanya dihadari orang sekecamatan saja dan bahkan
kadang hanya masyarakat seDesa.
Terik panasnya
matahari mulai terasa di kening,
keringat pun menetes dari pelipis. Upacara yang berjalan khitmat sudah mulai
riuh dengan mulai munculnya suara-suara kecil yang mengeluh kepanasan. Selang
beberapa menit kemudian terdengar suara
pemimpin upacara membubarkan pasukan. Teman disebelahku tersenyum lebar dan
segera beranjak pergi meninggalkan barisan. Setelah mengikuti upacara setiap
tahunnya sudah menjadi tradisi karang taruna hdi desaku untuk jalan-jalan
bareng.
“ teman-teman mau kemana kita kali ini?” tanya Imam ketua
Karang Taruna
“ browsing2 aja cari tempat yang belum pernah kita kunjungi”
tambah Afi.
“gimana kalau Prigelan hutan pinus daerah Magelang” sahut Tomi.
“kamu tahu tempatnya” tanya Rina
“Emang waktunya sampek kalau berangkatnya aja udah siang
kayak gini” akupun mulai menyela.
Selang hampir satu jam kami mendiskusikan tempat,
Tanpa pikir panjang kami yang semula hanya modal usul
akhirnya berangkat. Sekitar 15 sepeda
motor berjalan beriringan seperti
layaknya kereta. Tujuan kami ke
Magelang yaitu hutan Pinus.
Dijalan kami mampir di Pom Bensin Bedono, sambil menunggu
Imam yang tertinggal dibelakang ada juga dari kami yang mengisi bensin. 15
menit menunggu tiba tiba seorang laki-laki hitam manis, baju coklat sambil
mengenakan topi yang dibalik dengan
mengendarai pespa hitam datang.
“itu dia Imam “ spontan aku melihatnya.
“ o, lha ditunggu dari tadi baru muncul, kita hampir jamuran
nunggu kamu kelamaan “ ketus Afi.
“Maaf-maaf” jawab Imam dengan nada yang rendah sambil senyum
hingga terlihat gigi gingsulnya.
Langsung saja kami berangkat dengan di komandani Tomi yang
memimpin barisan paling depan. Kami hanya bermodal arah jalan karena tak
seorang dari anggota karang taruna di desaku belum pernah kesana.kami layaknya
petualang yang sedang mencari jejak.
**
Kami berduyun duyun dengan suara knalpot yang begitu ramai
berjalan pelan sambil menikmati pemandangan. Tiba-tiba dipinggir jalan, rem
mendadak, sepeda motor yang dikendari
kakakku berhenti.
“ ada apa mam? Afif bertanya
“mogok, hehe mesin kepanasan, harus didiamin bentar biar
agak dingin” jawab Imam.
Kami yang ada dibelakangnya pun berhenti dan kemudian turun
dari atas sepeda motor. Sebagian dari kami ada yang benerin pespanya Imam, ada
pula yang duduk sambil menikmati nasi bungkus bekal yang kami bawa dari rumah.
Setelah beberapa menit istirahat, kami meneruskan perjalan. Waktu pun semakin
sore kami tak kunjung sampai tujuan. Kemudian atas instruksi dari Tomi kita
sedikit mempercepat laju kendaraan. Dari laju kendaraan yang masing-masing
berbeda, kami tidak bisa mengantur kestabilan antar pemakai sepeda motor. Dari
kurangnya kestabilan tersebut sebagian dari kami tertinggal dibelakang. Ada
sekitar 5 sepeda motor yang tertinggal, termasuk aku.
“ih, barisan depan udah gak kelihatan mas, gimana ini” tanya
aku sama kakakku.
Kakakku hanya terdiam mengikuti temanku yang di depan.
“loh itu bukannya arah Prigelan, kok kita malah jalan terus”
ucap kakakku , seraya dia langsung mengejar barisan depan dan megajaknya putar
balik.
Setelah berjalan kurang lebih 10 meter kami kehilangan
jejak, dan ternyata keblabasen. Kemudian
kami putar balik dan di sebuah pertigaan
teman-teman barisan depan sudah menunggu. Ternyata benar salah jalan. ....
kemudian tanpa basa basi kami
melanjutkan perjalanan.
Dengan laju kendaraan yang agak stabil, iringan sepeda motor kembali normal.
Tiba-tiba digayuhnya rem dari tangan kakakku.
“aduh apa lagi ini ..” keluh aku
Ternyata pespa yang dikendarai imam mogok lagi.
“maaf teman-teman
mogok lagi, gimana kalau di dorong aja pakek motor sambil dihidupin
mesin motornya daripada nunggu mesin pespanya dingin terlalu lama dan sekarang
aja udah sore banget” ajak Imam,
Tidak pikir panjang kita semua ikut aja denga ide imam
tersebut.
Pespa tetap dinaikkinya dibantu dorongan Beni dan Ilham. Sedangkan yang lainnya tetap
mengikuti di belakangnya. Seperti pengawal yang mengiring rajanya. Tiba-tiba di sebuah tanjakkan yang tidak
terlalu terjal, ketika mau menyalip
sebuah mobil pickup papasan dengan
sebuah mobil. Ketika mau menyalip tidak
sampai, malah sepeda motor yang dikendarai ilham yang dibelakangnya
memboncengkan Rinda tergeletak begitu saja di depan persis mobil darii arah
yang berlawanan. Untung sopir mobil tersebut segera menarik kencang remnya. Jika
tidak segera ditariknya tak taulah apa nasibnya.
Kami segera turun dari motor dan bergegas menolong mereka
berdua. Dengan luka yang agak parah sampai celana yang dipakai Ilham pun ikut
sobek. Luka mereka diobati, dan ilham
mengganti celananya dengan pakaian yang seadanya dengan memakai celana kolor
pendek.
Tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya menghampiri
kami,dengan suara pelan ia menyuruh kami untuk segera bergegas pergi, karena
selain tempat berhenti kami yang kurang mengenakan yang berada di pinggir jalan
pada posisi tanjakkan dengan barisan yang agak panjang yang sedikit menyebabkan
keramaian.
“ sekarang posisi kalian ini mau kemana, kok saya lihat
semuanya seperti bingung?” tanya laki-laki itu
“ke prigelan pak, hutan pinus” jawab Tomi selaku perwakilan
dari kami.
“ oh wisata ‘Top Selfie’ itu , kalian itu kejauhan kurang
lebih 1 km. Kalian ambil arah yang ke keteb” balas laki-laki itu
Kami tercengang
ketika mendengar jawaban itu, dengan muka lemas dan tidak bersemangat. Ternyata salah jalan lagi.
Sebelum berbalik arah kami berterima kasih kepada bapak
tersebut. Setelah kurang lebih 20 menit kami sampai ditujuan. Dengan
perjalanan yang cukup lumayan, kami
merasa puas karena tak kalah menariknya perjalanan yang melelahkan dengan
banyak lika liku keasyikan terbalaskan oleh pemandangan yang indah. Berkat
kesabaran dan kerja sama kami, kita sampai tujuan.
Posting Komentar untuk "Perjalanan yang Tak Disangka"